BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kata administrasi berasal dari kata Ad, yang berarti ke atau kepada dan ministrare yang berarti melayani, membantu atau mengarahkan.
Sedangkan kata pegawai berasal dari kata personil atau personal yang berarti
pegawai. Jadi administrasi kepegawaian (Mulyasa, 2004, 71) tidak lain adalah
adiministrasi dalam bidang administrasi kepegawaian yaitu administrasi atau managemen
yang menangani masalah kepegawaian yang menangani masalah-masalah kepegawaian
dalam satu badan usaha, lembaga atau sekolah, manajemen itu sendiri adalah
usaha pencapaian suatu tujuan melalui orang lain dengan memanpaatkan sumber
daya yang ada secara maksimal (Mulyasa, 2004, 17).
Administrasi kepegawaian (Depdikbud, 1994 : 41) pada dasarnya adalah proses yang
paling dasar dalam pengumpulan informasi yang berhubungan dengan sistem
kepegawain dimana hal ini dilakukan dengan pengumpulan informasi yang
berhubungan dengan kelengkapan atau perlengkapan dari administrasi umum yang
berhubungan dengan seorang personal (Depdikbud, 1994 : 41).
Semua tenaga atau unsur manusia untuk memegang peranan
penting dalam kelancaran berlangsungnya kegiatan kelancaran pelaksanaan program
sekolah (Burhanudin, 1998 : 65). Unsur-unsur yang dimaksud disini adalah kepala
sekolah, wakasek, maupun staf administrasi yang ada di sekolah tersebut,
sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa administrasi personalia/kepegawaian
(Sukirman, 1982 : 2) sekolah adalah semua tenaga yang yang ada disekolah yang
dapat mencakup tenaga edukatif, dan tenaga administratif yang terdiri dari
pegawai tetap, pegawai diperkerjakan atau pegawai honorer (Sukirman, 1982
: 2).
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan
dengan administrasi kepegawaian sekolah adalah semua kegiatan yang dilakukan oleh
personil anggota sekolah pegawai tetap, pegawai yang diperkerjakan atau pegawai
honorer dalam lingkup administratif. Disamping itu juga administrasi
kepegawaian dikatakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang
mempunyai wewenang dalam administrasi kepegawaian yang didalamnya terdapat
kegiatan pencatatan beberapa jumlah pegawai (Guru dan Staf), pembinaan,
pengangkatan, pemberian hak dan kewajiban guru sampai dengan pemberian hak
kerja.
Segenap proses penetapan pegawai meliputi proses atau cara
memperoleh pegawai, penempatan, penugasan, pemiliharaan, evaluasi, dan
pemutusan hubungan kerja.
Adapun proses yang termasuk didalamnya adalah proses
perekaman data umum kepegawaian:
1.
Biodata
Pegawai
Biodata
pegawai berisikan data-data pegawai yang dalamnya berisi nama, alamat, tanggal
lahir, agama, kewarganegaraan sampai pendidikan terakhir.
2. Sejarah
Kepangkatan atau jabatan sejarah
kepangkatan atau jabatan berisikan data tentang guru atau pegawai dan apakah
seorang guru tersebut pernah mendapatkan kenaikan pangkat atau jabatan
seandainya ada jabatan apakah itu.
3. Sejarah Pendidikan Formal
Data guru tentang pendidikan
terakhir yang pernah dilakukan atau diikuti.
4. Sejarah Kepangkatan penjenjangan
Data yang mengenai apakah guru
tersebut pernah mendapatkan refrensi untuk melanjutkan pendidikan penjenjangan
dari sekolah, pemerintah provinsi, atau kabupaten dan gelar apa yang ingin
diraih oleh guru tersebut.
5. Pengunaan fasilitas
6. Daftar keluarga
7. Sejarah hukuman dan penghargaan yang
diperoleh.
Sistem
berasal dari bahasa yunani sistema dengan
pengertian suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian (whole compounded of several parts...shrode
dan voich,1974:115 dalam Amirin:1989:1).
Hubungan yang berlangsung dalam satuan-satuan atau
komponen secara teratur (an
organized,functionship among units or components. Award.1974:4 dalam Amirin
:1989:1)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ”sistem” mengandung arti
himpunan dari bagian-bagian atau komponen yang saling berinteraksi secara
teratur dan bersifat keseluruhan.
Istilah sistem selain mempunyai defenisi atau rumusan tertentu, juga
mempunyai dua konotasi yaitu;
1. Sebagai metoda, model prosedur untuk mencapai satu tujuan.
2. Sebagai suatu ketentuan / keutuhan (antity)...Sedarmayanti : 2009.
Disamping itu, Menurut Drs. Piet A. Sahertian (1985 : 27)
aspek-aspek pengelolaan administrasi kepegawaian adalah sebagai berikut :
kegiatan pencatatan, pendaftaran, penentuan kebijaksanaan dan prencanaan
kepegawaian, pengembangan kepegawain, pemeliharaan kepegawaian, penilaian
kepegawaian, pemutusan hubungan kerja, dan pengendalian pegawai.
Administrasi kepegawaian mempunyai 2 fungsi, yaitu :
1.
Fungsi
Teknis Administrasi
Administrasi kepegawaian pada
hakikatnya melakukan dua fungsi yaitu fungsi manajerial, dan fungsi operatif
(teknis). Fungsi manajerial berkaitan dengan pekerjaan pikiran atau menggunakan
pikiran (mental) meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengendalian pegawai. Sedangkan fungsi operatif (teknis), berkaitan dengan
kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan fisik, meliputi pengadaan,
pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan, dan pemensiunan pegawai.
2.
Fungsi
Umum Administrasi
a.
Perencanaan
Pegawai
b.
Pengorganisasian
Kepegawaian
c.
Pengarahan
Pegawai
d.
Pengendalian
Pegawai
Tentu saja administrasi kepegawaian
umumnya, khususnya administrasi kepegawaian sekolah perlu dikelolah dengan
suatu sistem, karena kebijaksanaan dasar sistem administrasi kepegawaian di
Negara kita mengacu pada Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang pokok-pokok
kepegawaian. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa dalam rangka usaha
mencapai tujuan nasional untuk mewujudkan masyarakat madani yang taat hukum,
berperadaban modern, demokratis, adil dan bermoral tinggi, diperlakukan pegawai
negeri yang merupakan unsur aparatur Negara yang bertugas sebagai abdi
masyarakat yang menyelenggarakan pelayanan secara adil dan merata, menjaga
persatuan dan kesatuan bangsa dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.
Perencanaan pegawai dapat
didefinisikan sebagai proses penentuan kebutuhan pegawai pada masa yang akan
berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi dan persediaan tenaga kerja yang
ada. Perencanaan pegawai merupakan bagian penting dari dan sebagai kontributor
pada perencanaan strategis karena membantu organisasi dalam menentukan
sumber-sumber yang diperlukan dan membantu menentukan apa yang benar-benar
dapat dicapai dengan sumber-sumber yang tersedia.
Perencanaan pegawai yang baik akan
memperbaiki pemanfaatan pegawai, menyesuaikan aktivitas pegawai dan kebutuhan
dimasa depan secara efisien, meningkatkan efisiensi dalam merekrut pegawai baru
serta melengkapi informasi tentang kepegawaian yang dapat membantu tentang
kegiatan kepegawaian dan unit organisasi lainnya. Melalui perencanaan dapat
diketahui kekurangan dibanding kebutuhan, sehingga dapat dilakukan perekrutan
pegawai baru, promosi dan transfer secara proaktif, dan tidak mengganggu
kegiatan organisasi.
Tidak terkecuali pengelolaan
administrasi kepegawaian dibidang pendidikan, karena menurut Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dalam “Kurikulum Usaha Perbaikan
dalam Bidang Pendidikan dan Administrasi Pendidikan”. Administrasi pendidikan adalah
suatu proses keseluruhan kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan,
pembiayaan dan pelaporan dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang
tersedia, baik personel, material, maupun spiritual untuk mencapai tujuan
pendidikan secara efektif dan efisien.
Sehingga dapat dikatakan, bahwa
administrasi pendidikan itu merupakan proses keseluruhan kegiatan bersama yang
harus dilakukan oleh semua pihak, yang ada kaitannya dengan tugas-tugas
pendidikan, dan disamping itu pula, administrasi pendidikan itu mencakup
kegiatan yang luas, seperti ; kegiatan perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengawasan, terutama dalam bidang pendidikan yang
diselenggarakan disekolah-sekolah.
Agar tercapai tujuan yang efisien
dan efektif, administrasi kepegawaian sekolah itu perlu dikelolah dengan baik, sehingga
setiap pengelolah tahu akan fungsi dan tugas masing-masing, karena pengelolaan
menurut Wardoyo (1980 : 41) Pengelolaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang
berintikan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Penelitian ini dilakukan di Sekolah
Menengah Atas Negeri 3 Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir, dan dijumpai berbagai
masalah, seperti ; kurangnya pengelolaan administrasi, kurangnya pemahaman
tentang administrasi kepegawaian, kurangnya penataan berkas, dna kurangnya
pengawasan.
Sehubungan dengan latar belakang tersebut,
peneliti tertarik untuk dijadikan skripsi yang berjudul “Sistem Pengelolaan
Kepegawaian di Sekolah Menengah Atas 3 Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir”.
1.2.Identifikasi
dan Rumusan Masalah.
1.2.1. Identifikasi
Masalah
Dari
latar belakang diatas, maka penulis dapat mengidentifikasikan permasalahan
sebagai berikut :
1.
Kurangnya
sistem pengelolaan administrasi kepegawaian;
2.
Kurangnya
pemahaman akan tugas;
3.
Kurangnya
penataan berkas;
4.
Kurangnya
pengawasan oleh atasan dalam melaksanakan tugas.
1.2.2. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
identifikasi masalah tersebut diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai
berikut ; Bagaimana sistem pengelolaan administrasi kepegawaian di SMA Negeri 3
Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir.
1.3. Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
identifikasi dna rumusan masalah yang ada dalam penelitian ini, maka tujuan utama
yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sistem
pengelolaan administrasi kepegawaian dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas
Negeri 3 Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir.
1.4.Manfaat
Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan
akan memberikan manfaat antara lain:
1.
Hasil
dari penelitian ini diharapkan menjadi salah satu masukan bagi sekolah,
bagaimana pengelolaan sistem administrasi kepegawaian;
2.
Hasil
penelitian ini diharapkan menjadi salah satu masukan atau referensi bagi penelitian
selanjutnya yang berkaitan dengan masalah pengelolaan sistem administrasi
kepegawaian sekolah, pada Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Tanjung Raja Kabupaten
Ogan Ilir;
3.
Membantu
dan mengantisipasi terhadap permasalahan yang ada, khususnya dalam sistem
administrasi kepegawaian pegawai Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Tanjung Raja
Kabupaten Ogan Ilir;
4.
Hasil
penelitian ini guna memenuhi satu syarat dalam mencapai gelar sarjana (S1) pada
Jurusan Ilmu Administrasi Negara Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(STISIPOL) Candradimuka Palembang.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1.Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa yunani sistema
dengan pengertian suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian
(whole compounded of several parts...shrode
dan voich,1974:115 dalam Amirin:1989:1).
Hubungan yang berlangsung dalam satuan-satuan atau
komponen secara teratur (an
organized,functionship among units or components. Award.1974:4 dalam Amirin
:1989:1).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ”sistem” mengandung arti
himpunan dari bagian-bagian atau komponen yang saling berinteraksi secara
teratur dan bersifat keseluruhan.
Istilah sistem selain mempunyai defenisi atau rumusan tertentu, juga
mempunyai dua konotasi yaitu;
1. Sebagai metoda, model prosedur untuk mencapai satu tujuan.
2. Sebagai suatu ketentuan / keutuhan (antity)...Sedarmayanti : 2009.
Berbagai pemakaian istilah sistem yang mengilustrasikan konotasi
metodologinya seperti ungkapan-ungkapan berikut :
1). Kita
membutuhkan suatu sistem pengawasan yang efektif.
2). Saya
mempunyai suatu sistem untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang efektif.
Tiap penggunaan istilah sistem yang berbeda itu mengandung konotasi yang
berbeda pula sehingga, nampak sesuatu dengan jelas bahwa ungkapan-ungkapan
itu lebih prosedur orientid atau lebih perspektif dari deskriptif.
Sistem sebagai suatu metode yang mempunyai makna metodologis yang
seringkali dijumpai. Misalnya yang kita butuhkan dalam memperbaiki kondisi
ekonomi nasional adalah sistem pemerintahan yang hingga saat ini masih
dinyatakan menyimpan misteri.
Sistem biasanya diartikan sebagai suatu himpunan dari pada bagian-bagian
yang berinteraksi membentuk suatu keseluruhan yang kompleks namun merupakan
suatu kesatuan.
Berbicara tentang sistematisasi sistem atau sistem pada dasarnya
membicarakan pendekatan sistem atau sistem aproach maksud penerapan teori umum
sistem pendekatan sistem membantu kita mencapai suatu efek sigernitis, dimana
tindakan berbagai bagian yang berbeda dari pada sistem itu yang dipersatukan
untuk menghasilkan efek yang lebih besar dibanding dengan jumlah dari bagian
yang beraneka ragam itu. (Winardi 1981 & 1980). Pendekatan sistem perlu
kita pergunakan untuk menemukan sifat penting.
Dapat pula dipahami bahwa sistem juga bisa disebut sebagai suatu wujud
(entistas), suatu sistem seringkali dianggap sebagai suatu himpunan bagian yang
saling berhubungan sehingga merupakan satu kesatuan. Contoh wujud adalah
lembaga pemerintah yang berkewajiban memberi pelayanan yang berkualitas
(pelayanan prima) kepada pelanggannya.
Kualitas
pelayanan aparatur pemerintah kepada masyarakat tidak mungkin terlaksana dengan
baik apabila tidak dilakukan secara bersama-sama. Artinya aparatur pemerintah
secara keseluruhan menjadikan keputusan pelanggan sampai tujuan utama. Dengan
demikian orang/lembaga yang dilayani merasa diuntungkan. Atau dengan kata lain
bahwa yang dilayani tersebut merasakan suatu nilai tambah dengan wujud
pelayanan yang diberikan.
Uraian di atas
menunjukkan bahwa sistem itu dapat dipergunakan untuk menunjuk (prosedur) karena itu, ia bersifat
preskriptif dan bukan deskriptif. Selain itu sistem dalam arti wujud juga dapat
digunakan untuk mendeskripsikan suatu kejadian. Misalnya untuk menjelaskan
berbagai peristiwa nasional.
Suatu sistem
adalah suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks dan terorganisir, suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang
membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh ( dikemukakan
Johnson, Kast, dan Rosenzweig seperti dikutip oleh Amirin, 1989)..(Sedarmayanti 2009)
2.2.Pengertian Sistem Pengelolaan
Sistem menurut Cole (Badriwan, 1991 : 3) adalah suatu
kerangka dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan yang disusun sesuai
dengan suatu skema yang menyeluruh, untuk melaksanakan suatu kegiatan atau
fungsi utama dari satuan organisasi.
Pengelolaan
diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh
sekelompok orang untuk melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujan
tertentu. Definisi pengelolaan oleh para ahli terdapat perbedaan –perbedaa hal
ini disebabkan karena para ahli meninjau pengertian dari sudut yang berbeda-
beda. Ada yang meninjau pengelolaan dari segi fungsi, benda, kelembagaan dan
yang meninjau pengelolaan sebagai suatu kesatuan. Namun jika dipelajari pada
prinsipnya definisi- definisi tersebut mengandung pengertian dan tujuan yang
sama. Berikut ini adalah pendapat dari beberapa ahli yakni menurut Wardoyo
(1980:41) memberikan definisi sebagai berikut pengelolaan adalah suatu rangkai
kegiatan yang berintikan perencanaan ,pengorganisasian pengerakan dan
pengawasan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Harsoyo (1977:121) pengelolaan adalah suatu
istilah yang berasal dari kata “kelola” mengandung arti serangkaian usaha yang
bertujuan untuk mengali dan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki secara
efektif dan efisien guna mencapai tujuan tertentu yang telah direncanakan
sebelumnya.
Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pengelolaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang berintikan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan yang bertujuan menggali dan memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki secara efektif untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan.
Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pengelolaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang berintikan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan yang bertujuan menggali dan memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki secara efektif untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan.
2.3.Pengertian
Pemahaman
Pemahaman adalah proses, perbuatan, cara memahami
atau memahamkan” (KBBI, 1993 : 636). Dalam hal ini pemahaman dapat diartikan
sebagai proses pembelajaran yang diikuti hasil belajar sesuai dengan tujuan
tujuan pembelajaran. Suharsimi (2009 : 118) menyatakan bahwa pemahaman (comprehension)
adalah bagaimana seorang mempertahankan, membedakan, menduga (estimates),
menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh,
menuliskan kembali, dan memperkirakan.
Pengertian pemahaman
individu adalah suatu cara untuk memahami, menilai, atau menaksir
karakteristik, potensi, dan atau masalah-masalah (gangguan) yang ada pada
individu atau sekelompok individu.
Cara-cara yang digunakan untuk
memahami individu tersebut mencakup :
-
Observasi;
-
Interview;
-
Skala psikologis;
-
Daftar cek;
-
Inventory;
-
Tes proyeksi;
Pemahaman atau penilaian itu
dimaksudkan untuk kepentingan pemberian bantuan bagi pengembangan potensi yang
ada padanya (developmental) dan atau penyelesaian masalah-masalah yang
dihadapinya (klinis). Dalam melakukan asesmen itu, lazim digunakan berbagai
instrumen yang bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu dengan cara tes dan
non-tes.
Adapun tujuan pemahaman individu
dalam Bimbingan dan Konseling yaitu agar konselor semakin mampu menerima keadaan
konseli (individu/siswa) seperti apa adanya, konselor semakin mampu
memperlakukan konseli sebagaimana mestinya, konselor terhindar dari gangguan
komunikasi sehingga proses konseling dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Ada beberapa manfaat pengetahuan dan
keterampilan melakukan asesmen, yaitu (a) untuk pengklasifikasian dan
penempatan seseorang dalam pendidikan dan pekerjaan, (b) untuk menyaring
pelamar pekerjaan, pendidikan, dan atau program pelatihan, (c) untuk pemberian
bantuan dan pengarahan bagi individu dalam pemilihan penddiikan, pekerjaan,
konseling perorangan, (d) untuk memilih karyawan mana yang perlu dihentikan,
dipertahankan, atau dipromosikan melalui program pendidikan atau pelatihan atau
tugas khusus, (e) untuk meramalkan dan menentukan perlakuan (tritmen) psikis,
fisik, klinis, dan rumah sakit , (f) untuk mengevaluasi perubahan kognitif,
intrapersonal, dan interpersonal sebagai hasil dari pendidikan, terapi
psikologis dan berbagai program intervensi tingkah laku. (g) untuk mendukung
penelitian tentang perubahan tingkah laku dan meng-evaluasi efektifitas suatu
program atau teknik yang baru.
Berdasarkan hal di atas, dapat
disimpulkan bahwa pemahaman individu dalam layanan bimbingan dan konseling
bertujuan agar :
1.
Kita semakin mampu menerima keadaan individu, seperti
apa adanya dan sekaligus keberadaan siswa baik dari segi kelebihan maupun
kekurangannya.
2.
Kita semakin mampu memperlakukan individu sebagaimana
mestinya dalam arti lain mampu memberikan bantuan seperti yang dikehendaki oleh
siswa.
3.
Kita terhindar dari gangguan komunikasi, sehingga
mampu menciptakan relasi yang semakin baik.
Pengetahuan
menurut Soekidjo Notoadmodjo ialah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi
setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indera manusia yaitu : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui, segala
sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran) (Tim penyusun
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002).
Benjamin
Bloom (1956), seorang ahli pendidikan, membuat klasifikasi (taxonomy)
pertanyaan-pertanyaan yang dapat dipakai untuk merangsang proses berfikir pada
manusia. Menurut Bloom kecakapan berfikir pada manusia dapat dibagi dalam 6
kategori yaitu :
1. Pengetahuan
(knowledge)
Mencakup
ketrampilan mengingat kembali faktor-faktor yang pernah dipelajari.
2. Pemahaman
(comprehension)
Meliputi
pemahaman terhadap informasi yang ada.
3. Penerapan
(application)
Mencakup
keterampilan menerapkan informasi atau pengetahuan yang telah dipelajari ke
dalam situasi yang baru.
4. Analisis
(analysis)
Meliputi
pemilahan informasi menjadi bagian-bagian atau meneliti dan mencoba memahami struktur
informasi.
5. Sintesis
(synthesis)
Mencakup
menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang sudah ada untuk menggabungkan
elemen-elemen menjadi suatu pola yang tidak ada sebelumnya.
6. Evaluasi
(evaluation)
Menurut
Soekidjo (2003) pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara
atau angket yang menanyakan
tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden.
Menurut
Soekidjo (2005) cara untuk memperoleh pengetahuan ada 2 yaitu:
1.
Cara Tradisional atau Non Ilmiah
a.
Cara coba salah (Trial and error)
Cara
ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan bahkan mungkin sebelum adanya
peradaban. Pada waktu itu seseorang apabila menghadapi persoalan atau masalah,
upaya pemecahannya dilakukan dengan coba-coba saja. Bahkan sampai sekarang pun
metode ini masih sering dipergunakan, terutama oleh mereka yang belum atau
tidak mengetahui suatu cara tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
b. Cara kekuasaan atau otoritas
Para pemegang otoritas, baik pemimpin
pemerintahan, tokoh agama maupun ahli ilmu pengetahuan pada prinsipnya
mempunyai mekanisme yang sama di dalam penemuan pengetahuan. Prinsip ini adalah
orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang mempunyai otoritas,
tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan
fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri. Hal ini disebabkan karena
orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa apa yang ditemukannya
adalah sudah benar.
c. Berdasarkan
pengalaman pribadi
Hal
ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.
d. Melalui jalan pikiran
Sejalan
dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara pikir manusia pun ikut
berkembang. Dari sini manusia telah mempu menggunakan penalarannya dalam
memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran
pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya.
2.
Cara Modern atau Cara Ilmiah
Cara baru atau modern dalam
memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara
ini disebut metode penelitian ilmiah.
Menurut
Notoatmodjo (2007), pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini
setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga.
2.4.Pengertian
Penataan Berkas
Sistem
penataan arsip yang baik dan teratur, mencerminkan keberhasilan suatu
pengelolaan kegiatan di masa lalu, yang akan besar pengaruhnya terhadap
perkembangan di masa yang akan datang. Yang dimaksud dengan sistem penataan
arsip adalah kegiatan mengatur dan menyusun arsip dalam suatu tatanan yang
sistematis dan logis, menyimpan serta merawat arsip untuk digunakan secara aman
dan ekonomis (Sedarmayanti, 2003 : 68).
Menurut
Sedarmayanti tujuan penataan arsip adalah :
-
Agar arsip dapat disimpan dan ditemukan kembali
dengan cepat dan tepat.
-
Menunjang terlaksananya penyusutan arsip dengan
berdaya guna.
2.4.1.
Sistem penataan arsip
Penataan arsip yang diartikan dalam
uraian ini adalah suatu kegiatan pemberkasan dan panataan arsip dinamis, yang
penempatannya secara aktual menerapkan suatu sistem tertentu, yang biasa disebut
sistem penempatan arsip secara aktual. Kegiatan pemberkasan dan penataan
arsip dinamis tersebut populer dengan
sebutan “filingSystem” (Jonner Hasugian, 2003:7-online).
Para ahli kearsipan kelihatannya
sepakat untuk menyatakan bahwa filling system yang digunakan atau
dipakai untuk kegiatan penyimpanan arsip terdiri dari (Sedarmayanti, 2003 : 70)
:
1. Sistem
Abjad
Sistem abjad adalah sistem penataan
berkas yang umumnya digunakan untuk menata berkas yang berurutan dari A sampai
dengan Z dengan berpedoman pada peraturan mengindeks.
2.
Sistem
Masalah
Sistem
masalah adalah sistem penataan berkas berdasarkan kegiatan-kegiatan yang
berkenaan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan administrasi yang
mengikuti sistem ini.
Masalah-masalah
harus dikelempokkan menjadi satu subjek yang disusun dalam suatu daftar yang
disebut “daftar indeks”. Daftar indeks yaitu daftar yang kode dan
masalah-masalah yang terdapat di dalam kantor/organisasi sebagai pedoman
penataan arsip berdasarkan masalah.
3. Sistem Nomor
Sistem nomor adalah
sistem penataan berkas berdasarkan kelompok permasalahan yang kemudian
mesing-masing setiap masalah diberi nomor tertentu.
4. Sistem
Tanggal
Sistem tanggal
adalah sistem penataan berkas berdasarkan urutan tanggal, bulan dan tahun yang
mana pada umumnya tanggal yang dijadikan pedoman surat. Surat atau berkas yang
datang paling akhir ditempatkan dibagian paling akhir pula, tanpa harus
memperhatikan masalah berkas tersebut.
5. Sistem
Wilayah
Sistem
wilayah adalah sistem penataan berkas berdasarkan tempat atau lokasi. Untuk
melaksanakan sistem wilayah ini, dapat dipergunakan nama daerah atau wilayah
sebagai pokok permasalahan. Pokok permasalahan tersebut dapat dikembangkan
menjadi masalah-masalah.
2.5.Pengertian Pengawasan
Pengawasan adalah
proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat
mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah
ditetapkan tersebut. Controlling is the process of measuring performance and
taking action to ensure desired results. Pengawasan adalah proses untuk
memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah
direncanakan . The process of ensuring that actual activities conform the
planned activities.
Menurut Winardi
“Pengawasan adalah semua aktivitas yang dilaksanakan oleh pihak manajer dalam
upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang direncanakan”.
Sedangkan menurut Basu Swasta “Pengawasan merupakan fungsi yang menjamin
bahwa kegiatan-kegiatan dapat memberikan hasil seperti yang diinginkan”.
Sedangkan menurut Komaruddin “Pengawasan adalah berhubungan dengan perbandingan
antara pelaksana aktual rencana, dan awal untuk langkah perbaikan terhadap penyimpangan dan rencana
yang berarti”.
Pengawasan
adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja standar pada
perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk membandingkan
kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk menetapkan apakah
telah terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk mengambil tindakan
perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan
atau pemerintahan telah digunakan seefektif dan seefisien mungkin guna mencapai
tujuan perusahaan atau pemerintahan. Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat
ditarik kesimpulan bahwa pengawasan merupakan hal penting dalam menjalankan
suatu perencanaan. Dengan adanya pengawasan maka perencanaan yang diharapkan
oleh manajemen dapat terpenuhi dan berjalan dengan baik.
Pengawasan pada
dasarnya diarahkan sepenuhnya untuk menghindari adanya kemungkinan
penyelewengan atau penyimpangan atas tujuan yang akan dicapai. melalui
pengawasan diharapkan dapat membantu melaksanakan kebijakan yang telah
ditetapkan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan secara efektif dan
efisien. Bahkan, melalui pengawasan tercipta suatu aktivitas yang berkaitan
erat dengan penentuan atau evaluasi mengenai sejauhmana pelaksanaan kerja sudah
dilaksanakan. Pengawasan juga dapat mendeteksi sejauhmana kebijakan pimpinan
dijalankan dan sampai sejauhmana penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan
kerja tersebut.
Konsep
pengawasan demikian sebenarnya menunjukkan pengawasan merupakan bagian dari
fungsi manajemen, di mana pengawasan dianggap sebagai bentuk pemeriksaan atau
pengontrolan dari pihak yang lebih atas kepada pihak di bawahnya.” Dalam ilmu
manajemen, pengawasan ditempatkan sebagai tahapan terakhir dari fungsi
manajemen. Dari segi manajerial, pengawasan mengandung makna pula sebagai:
“pengamatan atas pelaksanaan seluruh kegiatan
unit organisasi yang diperiksa untuk menjamin agar seluruh pekerjaan yang
sedang dilaksanakan sesuai dengan rencana dan peraturan.”
atau
“suatu usaha agar suatu pekerjaan dapat
dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan, dan dengan adanya
pengawasan dapat memperkecil timbulnya hambatan, sedangkan hambatan yang telah
terjadi dapat segera diketahui yang kemudian dapat dilakukan tindakan
perbaikannya.”
Sementara itu,
dari segi hukum administrasi negara, pengawasan dimaknai sebagai
“proses kegiatan yang membandingkan apa yang
dijalankan, dilaksanakan, atau diselenggarakan itu dengan apa yang dikehendaki,
direncanakan, atau diperintahkan.”
Hasil
pengawasan ini harus dapat menunjukkan sampai di mana terdapat kecocokan dan
ketidakcocokan dan menemukan penyebab ketidakcocokan yang muncul. Dalam konteks
membangun manajemen pemerintahan publik yang bercirikan good governance (tata
kelola pemerintahan yang baik), pengawasan merupakan aspek penting untuk
menjaga fungsi pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya. Dalam konteks ini,
pengawasan menjadi sama pentingnya dengan penerapan good governance itu
sendiri.
Dalam kaitannya
dengan akuntabilitas publik, pengawasan merupakan salah satu cara untuk
membangun dan menjaga legitimasi warga masyarakat terhadap kinerja pemerintahan
dengan menciptakan suatu sistem pengawasan yang efektif, baik pengawasan intern
(internal control) maupun pengawasan ekstern (external control).
Di samping mendorong adanya pengawasan masyarakat (social control).
Sasaran
pengawasan adalah temuan yang menyatakan terjadinya penyimpangan atas rencana
atau target. Sementara itu, tindakan yang dapat dilakukan adalah:
a. mengarahkan atau merekomendasikan perbaikan;
b. menyarankan agar ditekan adanya pemborosan;
c. mengoptimalkan pekerjaan untuk mencapai
sasaran rencana.
Pada dasarnya ada beberapa jenis
pengawasan yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Pengawasan Intern dan Ekstern
Pengawasan
intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam
lingkungan unit organisasi yang bersangkutan.” Pengawasan dalam bentuk ini
dapat dilakukan dengan cara pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat
(built in control) atau pengawasan yang dilakukan secara rutin oleh
inspektorat jenderal pada setiap kementerian dan inspektorat wilayah untuk
setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan menempatkannya di bawah pengawasan Kementerian Dalam Negeri.
Pengawasan
ekstern adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh unit pengawasan yang berada di
luar unit organisasi yang diawasi. Dalam hal ini di Indonesia adalah Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK), yang merupakan lembaga tinggi negara yang terlepas
dari pengaruh kekuasaan manapun. Dalam menjalankan tugasnya, BPK tidak
mengabaikan hasil laporan pemeriksaan aparat pengawasan intern pemerintah,
sehingga sudah sepantasnya di antara keduanya perlu terwujud harmonisasi dalam
proses pengawasan keuangan negara. Proses harmonisasi demikian tidak mengurangi
independensi BPK untuk tidak memihak dan menilai secara obyektif aktivitas
pemerintah.
2.
Pengawasan
Preventif dan Represif
Pengawasan
preventif lebih dimaksudkan sebagai, “pengawasan yang dilakukan terhadap suatu
kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat mencegah terjadinya
penyimpangan.” Lazimnya, pengawasan ini dilakukan pemerintah dengan maksud untuk
menghindari adanya penyimpangan pelaksanaan keuangan negara yang akan
membebankan dan merugikan negara lebih besar. Di sisi lain, pengawasan ini juga
dimaksudkan agar sistem pelaksanaan anggaran dapat berjalan sebagaimana yang
dikehendaki. Pengawasan preventif akan lebih bermanfaat dan bermakna jika
dilakukan oleh atasan langsung, sehingga penyimpangan yang kemungkinan
dilakukan akan terdeteksi lebih awal.
Di sisi lain,
pengawasan represif adalah “pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan
setelah kegiatan itu dilakukan.” Pengawasan model ini lazimnya dilakukan pada
akhir tahun anggaran, di mana anggaran yang telah ditentukan kemudian
disampaikan laporannya. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan dan pengawasannya
untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyimpangan.
3.
Pengawasan
Aktif dan Pasif
Pengawasan dekat (aktif) dilakukan sebagai bentuk
“pengawasan yang dilaksanakan di tempat kegiatan yang bersangkutan.” Hal ini
berbeda dengan pengawasan jauh (pasif) yang melakukan pengawasan melalui
“penelitian dan pengujian terhadap surat-surat pertanggung jawaban yang
disertai dengan bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran.” Di sisi lain,
pengawasan berdasarkan pemeriksaan kebenaran formil menurut hak (rechmatigheid)
adalah “pemeriksaan terhadap pengeluaran apakah telah sesuai dengan peraturan,
tidak kadaluarsa, dan hak itu terbukti kebenarannya.” Sementara, hak
berdasarkan pemeriksaan kebenaran materil mengenai maksud tujuan pengeluaran (doelmatigheid)
adalah “pemeriksaan terhadap pengeluaran apakah telah memenuhi prinsip ekonomi,
yaitu pengeluaran tersebut diperlukan dan beban biaya yang serendah mungkin.”
4.
Pengawasan
kebenaran formil menurut hak (rechtimatigheid) dan pemeriksaan kebenaran
materiil mengenai maksud tujuan pengeluaran (doelmatigheid). Dalam kaitannya
dengan penyelenggaraan negara,
pengawasan ditujukan untuk menghindari terjadinya “korupsi, penyelewengan, dan
pemborosan anggaran negara yang tertuju pada aparatur atau pegawai negeri.”
Dengan dijalankannya pengawasan tersebut diharapkan pengelolaan dan pertanggung
jawaban anggaran dan
kebijakan negara dapat berjalan sebagaimana direncanakan.
2.6.
Administrasi Kepegawaian
Buku pedoman administrasi kepegawaian yang diterbitkan oleh
Departemen Agama RI menguraikan kegiatan yang berkaitan dengan kepegawaian,
tugas dan tanggung jawab pengelolaan satuan pendidikan dan peningkatan tata
usaha kepegawaian di sekolah. Sebagai perlengkapan tata laksana kepegawaian
disediakan format-format untuk menata pelaksanaan kegiatan tertentu yang
diperlukan.
Sesuai
dengan prinsip tata laksana kepegawaian sekolah yang menyeluruh dan
berkelangsungan. Untuk itu telah diusahakan bentuk-bentuk pelayanan hak-hak
pegawai/guru yang bertugas di sekolah tertentu, pindah tempat, sampai yang
bersangkutan berhenti menjadi pegawai / guru. Penggunaan frmat sesuai dengan
kebutuhan pelaksanaan suatu kegiatan pelayanan administrasi dalam rangka
pembinaan pegawai/guru berkelangsungan, berdasarkan ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.
Administrasi
pegawai adalah kegiatan mencakup penetapan norma, standar, prosedur,
pengangkatan, pembinaan, penatalaksanaan, kesejahteraan dan pemberhentian
tenaga kependidikan sekolah agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dalam
mencapai tujuan sekolah.
Komponen
pekerjaan yang menjadi fokus administrasi kepegawaian adalah :
a. Penyusunan formasi
b. Pengadaan pegawai
c. Kenaikan pangkat
d. Pembinaan dan pengembangan karier pegawai
e. Ketatalaksanaan tenaga kependidikan
Untuk
itu telah diusahakan bentuk-bentuk pelayanan hak-hak pegawai/guru yang bertugas
di sekolah tertentu, pindah tempat, sampai yang bersangkutan berhenti menjadi
pegawai / guru. Penggunaan format sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan suatu
kegiatan pelayanan administrasi dalam rangka pembinaan pegawai/guru
berkelangsungan, berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
2.7. Kerangka Berfikir
Bagaimana
sistem pengelolaan administrasi kepegawaian di SMA Negeri 3 Tanjung Raja
Kabupaten Ogan Komering Ilir, dengan indikator :
1. Sistem
Pelaksanaan Administrasi;
2. Pemahaman;
3. Penataan;
4. Pengawasan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian.
3.1.1.Tempat Penelitian
Penelitian
dilakukan pada Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Desa Ulak Kerbau Baru Kecamatan Tanjung
Raja Kabupaten Ogan Ilir.
3.1.2. Waktu Penelitian
Penelitian
ini direncanakan selama tiga bulan yakni bulan Desember 2012 sampai dengan
Maret 2013.
3.2.Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.
Observasi
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata
(2010:220) “Observasi adalah suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan
jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung”.
Didalam penelitian ini penulis
mengadakan observasi atau pengamatan secara langsung terhadap apa yang akan
diteliti.
2.
Kuesioner ( Angket )
Menurut
Nana Syaodih Sukmadinata (2010:219) Kuesioner atau angket merupakan suatu
teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak
langsung bertanya jawab dengan respoden) . Instrument atau alat pengumpulan
datanya juga disebut angket berisi pertanyaan atau pernyataan yang harusa
dijawab atu direspon oleh responden.
Didalam
penelitian ini penulis memberikan pertanyaan untuk memperoleh keterangan yang
diperlukan dari responden dengan menyebarkan angket alternative jawabannya
sudah penulis sediakan.
3.
Dokumentasi
Dokumntasi, yaitu penampilan data yang
dilakukan dengan mengkaji dokumen-dokumen, baik berupa buku referensi maupun
peraturan atau pasal yang berhubungan dengan penelitian ini guna melengkapi
data-data yang berhubungan dengan penelitian ini, dimana dokumen-dokumen yang
dianggap menunjang dan relevan dengan permasalahan yang akan diteliti, baik
berupa buku-buku, dokumen peraturan pemerintahan dan undang-undang yang telah bersedia pada
lembaga yang terkait dipelajari, dikaji dan disusun/dikatorgerikan sedemikian
rupa, sehingga dapat diperoleh data guna memberikan informasi berkenaan dengan
penelitian yang akan dilakukan.
3.3. Informan
Penelitian ini
menggunakan teknik wawancara sebagai salah satu alat pengumpulan data. Dalam
hal ini informan yang akan diwawancarai adalah :
1. Kepala
Sekolah;
2. Wakil
Kepala Sekolah;
3. Kabag.
TU;
4. Kabag.
Humas;
5. Kasubbag.
Sarana;
6. Kasubbag.
Kesiswaan;
7. Kasubbag.
Kurikulum;
8. Guru
Senior; dan
9. Wali
Kelas.
3.4. Rancangan Penelitian
Dalam
penelitian ini penulis menggunakan desain deskritif. penggunaan desain ini
dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara akurat tentang sifat-sifat dari
beberapa fenomena kelompok atau individu. Metode yang penulis gunakan
sebagaimana yang dilakukan dalam suatu kegiatan ilmiah yang terlepas dari
perhitungan utntuk menetukan langkah-langkah didalam mengakurasikan data yang
diperoleh. Maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode wawancara,
sehingga hasil yang diperoleh dapat disimpulkan.
3.5. Variabel dan Definisi Operasional
Menurut
Suharsimi Arikunto (2006:18) Variabel penelitian adalah obyek penelitian atau
apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Di dalam
penelitian ini terdapat satu variabel, karena penelitian ini penelitian
kaulitatif, menurut Shadily, 1994, 82 dalam buku Public Administration, dengan
indikator sebagai berikut :
1. Sistem
Pelaksanaan Administrasi;
2. Pemahaman;
3. Penataan;
4. Pengawasan.
3.6. Teknik Analisis
Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara deksriftif kualitatif, maksudnya
menguraikan atau menjelaskan data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan
dokumentasi secara tegas dan jelas. Kemudian ditarik kesimpulan dengan cara deduktif, yakni menarik kesimpulan dari
uraian-uraian pernyataan-pernyataan yang bersifat umum ke khusus, sehingga
penyajian hasil penelitian ini dapat dipahami dengan mudah.
3.7. Sistematika Penulisan
Adapun
sistematika penulisan dalam skirpsi terdapat 6 (enam) Bab, masing-masing Bab
terdiri dari sub Bagian, yang pada pokoknnya mempunyai hubungan yang erat
antara satu dengan lainnya.
Dalam
penelitian ini penulisan sistematika laporan direncanakan:
Bab I : Pendahuluan
Berisikan
penjelasan tentang Latar Belakang Permasalahan, Identifikasi dan Perumusan
Masalah Penelitian, Tujuan Penelitian, dan Kegunaan/Manfaat Penelitian
Bab II : Tinjauan Pustaka
Berisikan
penjelasan tentang landasan teori, konsep, preposisi atau pendekatan teori yang
berhubungan dengan penelitian, juga dibahas tentang penelitian-penelitian
sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
Bab III : Metode Penelitian
Berisikan
penjelasan terinci memuat hal-hal yang secara keseluruhan dari penelitian yang
dilakukan, meliputi Tempat dan Waktu Penelitian, Sumber dan Teknik Pengumpulan
data, Infoman, Variabel dan Definisi Operasional, Teknik Analisis dan
Sistematika Penulisan dan Jadwal Waktu Penelitian
Bab IV : Deskripsi Wilayah / Lokasi Penelitian
Berisikan
penjelasan tentang gambaran umum lokasi penelitian yang terdiri dari struktur
organisasi, uraian tugas dan sebagainya.
Bab V : Hasil Penelitian Dan Pembahasan Hasil Penelitian
Berisikan
penjelasan mengenai semua hasil penelitian yang relevan dengamn masalah dan
tujuan penelitian, analisis mengenai hasil penelitian dan pembahasan /
penjelasan pemecahan masalah.
Bab VI : Kesimpulan Dan Saran
Berisikan
penjelasan mengenai ringkasan atau kesimpulan yang merupakan generalisasi dari
pembahasan dan saran yang diusulkan berdasarkan hasil yang diperoleh dari
penelitian
3.8. Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian disusun sebagai
berikut :
Table
3.8
Jadwal
Kegiatan Penelitian
No.
|
Jadwal
Kegiatan
|
Jadwal Pelaksanaan
|
|||
Des
2012
|
Jan
|
Feb
|
Mei
2013
|
||
1
|
Rencana Judul
Skripsi
|
X
|
|
|
|
2
|
Pengajuan
Judul Skripsi
|
X
|
|
|
|
3
|
Pembuatan
Proposal
|
|
X
|
|
|
4
|
Konsultasi Bab
I
|
|
X
|
|
|
5
|
Konsultasi Bab
II
|
|
X
|
|
|
6
|
Konsultasi Bab
III
|
|
X
|
|
|
7
|
Seminar
Proposal Skripsi
|
|
X
|
|
|
8
|
Konsultasi Bab
IV
|
|
|
X
|
|
9
|
Konsultasi Bab
V
|
|
|
X
|
|
10
|
Konsultas Bab
VI
|
|
|
X
|
|
11
|
Konsultasi
Skripsi
|
|
|
|
X
|
12
|
Persetujuan
Skripsi
|
|
|
|
X
|
BAB IV
GAMBARAN UMUM SMA NEGERI 3 TANJUNG
RAJA
KABUPATEN OGAN ILIR
1.1. Sejarah Singkat SMA Negeri 3
Tanjung Raja
SMA
Negeri 3 Tanjung Raja berdiri sejak tahun 2007 berdasarkan SK Bupati Kabupaten
Ogan Ilir, SMA Negeri 3 Tanjung Raja Menempati gedung eks. SD Negeri 1 Ulak
Kerbau Baru yang beralamat di Jalan Raya Desa Ulak Kerbau Baru Kecamatan
Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan.
Berdirinya
SMA Negeri 3 Tanjung Raja tak lain merupakan bukti upaya dalam memajukan
pendidikan di kabupaten Ogan Ilir. Kepala SMA Negeri 3 Tanjung Raja Hj. NADRA,
S.Pd. M.Si. yang merupakan kepala sekolah pertama sejak berdiri tahun 2007
sampai dengan saat ini. SMA Negeri 3 Tanjung Raja memiliki 7 Ruang Belajar, 1
ruang Kepala Sekolah, Guru, dan Tata Usaha.
Sejak
Berdiri tahun 2007 SMA Negeri 3 Tanjung Raja telah mengalami 2 kali perehaban
gedung yaitu rehab sebagian ruang belajar pada tahun 2009 kemudian kembali
dilakukan perehaban sebagian pada akhir tahun 2012 sehingga kondisi SMA Negeri
3 Tanjung Raja saat ini sudah sangat baik meski pun masih mengalami kekurangan
ruang kelas untuk siswa belajar sehingga masih dilaksankannya sekolah kombinasi
antara pagi dan sore hari.
SMA
Negeri 3 Tanjung Raja pada saat ini memiliki 363 orang siswa dan 35 orang
tenaga pendidik serta 4 orang tenaga kependidikan. Dengan kondisi saat ini SMA
Negeri 3 Tanjung Raja sudah sangat baik berdasar Akreditasi C dengan bobot 68 hanya terkendala pada fasilitas
gedung sehingga dirasakan masih kurangnya fasilitas penunjang pembelajaran bagi
siswa.
Diharapkan
kedepannya pemerintah akan lebih memperhatikan lagi fasilitas sarana dan
prasarana Sekolah di Kabupaten Ogan Ilir secara umunya dan SMA Negeri 3 Tanjung
Raja sehingga dapat mencetak generasi penerus perjuangan bangsa secara optimal
dengan hasil yang cerdas, tepat guna dan menguasai IPTEK.
4.2.
Struktur
Organisasi
STRUKTUR
ORGANISASI SMA NEGERI 3 TANJUNG RAJA
WAKA
KESISWAAN
FADILAH,
S.Pd.
|
ALI
XII.IPA
1
|
WALI
XII.IPA
2
|
WALI
XII.IPS
|
GURU
BK
YANA,
S.Psi
|
WALI X.1
|
WALI X.2
|
WALI X.3
|
WALI XI.IPA 1
|
WALI
XI.IPA 2
|
WALI
XI.IPS 1
|
WALI
XI.IPS 2
|
WALI
XII.IPA
1
|
WALI
XII.IPA
2
|
WALI
XII.IPS
|
GURU
BK
ASRI
WIJAYANTI, S.Psi
|
GURU
BK
YANA,
S.Psi
|
SISWA/SISWI
|
KEPALA
SEKOLAH
Hj. NADRA,
S.Pd. M.Si.
|
KETUA
KOMITE
MUSNAINI
|
TATA
USAHA
|
WAKA
SARANA
YUNI
HARSI, S.Pd.
|
WAKA
KURIKULUM
IDA
FITRIANI, S.Pd.
|
WAKA
KESISWAAN
FADILAH,
S.Pd.
|
WAKA
HUMAS
MEILINDA,
S.Pd.
|
WAKA
HUMAS
MEILINDA,
S.Pd.
|
4.3. Tugas Pokok
4.3.1. Tugas Kepala Sekolah
1.
Kepala
Sekolah Sebagai Pendidik (Edukator).
Mengajar di kelas,
membimbing guru, membimbing karyawan, membimbing siswa, mengembangkan staf,
mengikuti perkembangan IPTEK, dan memberi contoh Bimbingan Konsling / Karier yang baik.
2.
Kepala
Sekolah Sebagai Manajer.
Menyusun progran
sekolah, menyusun organisasi kepegawaian di Sekolah, menggerakkan staf (guru
dan karyawan), dan mengoptimalkan sumber
daya sekolah.
3.
Kepala
Sekolah Sebagai Administrator.
Mengelola administrasi
KBM dan BK, mengelola administrasi kesiswaan, mengelola administrasi
ketenagaan, mengola administrasi keuangan, mengelola administrasi sarana
prasarana, dan mengelola administrasi persuratan.
4.
Kepala
Sekolah Sebagai Supervisor (Penyelia).
Mengatur lingkungan
kerja, mengatur sarana kerja, dan menetapkan prinsip penghargaan dan hukuman (reward and punishment)
5.
Kepala
Sekolah Sebagai Leader (Pemimpin).
Memiliki kepribadian
yang kuat; memahami kondisi guru, karyawan, dan siswa dengan baik; memiliki visi dan memahami misi sekolah, kemampuan
mengambil keputusan, dan memiliki kemampuan berkomunikasi.
6.
Kepala
Sekolah Sebagai Inovator.
Mencari / menemukan
gagasan baru untuk pembaharuan sekolah, dan kemampuan utuk melaksanakan
pembaharuan di sekolah.
7.
Kepala
Sekolah sebagai Motivator.
Mengatur lingkungan
kerja, mengatur sarana kerja, dan menetapkan prinsip penghargaan dan hukuman (reward and punishment)
4.3.2. Tugas Kepala Tata Usaha dan Tata
Usaha
1.
Kepala
Tata Usaha/Bendahara
a.
Menyusun program Tata Usaha;
b.
Membantu mengelola keuangan sekolah;
c.
Membagi tugas Tata usaha
dan pembantu pelaksana;
d.
Membina dan pengembangan karier pegawai
Tata Usaha sekolah;
e.
Memberi penilaian hasil kerja Karyawan
sekolah;
f.
Mengkoordinasikan dan melaksanakan
kegiatan sekolah;
g.
Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan
pengurusan ketatausahaan sekolah secara berkala;
h.
Membuat Usulan kebutuhan belanja rutin (
DUKDA );
i.
Menyusun Penilaian Kinerja Bulanan;
j.
Merekap daftar hadir Guru dan Pegawai;
k.
Mengambil dan menyimpan dana rutin;
l.
Membayar belanja dari dana rutin;
m.
Membuat SPJ penggunaan dana rutin;
n.
Mengambil dan membayarkan gaji dan kesra
guru dan karyawan;
o.
Membukukan semua keuangan rutin, gaji dan
kesra;
p.
Membuat LPJ keuangan.
4.3.3. Tugas Wakil Kepala Sekolah
1.
Wakil Kepala
Sekolah Bidang Kurikulum
a. Menyusun Program Pengajaran;
b. Menyusunan
pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran;
c. Menyusun jadwal pelaksanaan ujian Mid semester & ujian semester;
d. Menerapkan kriteria persyaratan naik/tidak naik
kelas & kriteria penjurusan;
e. Mengatur jadwal penerimaan buku laporan hasil
belajar;
f. Mengkoordinasi & 2 mengarahkan penyusunan satuan
pembelajaran;
g. Menyusun laporan pelaksanaan pembelajaran;
h. Membina kegiatan lomba bidang akademis; dan
i.
Tugas-tugas lain
yang ditetapkan dengan surat keputusan pejabat atasan.
2.
Wakil Kepala
Sekolah Bidang Kesiswaan
a.
Menyusun program
pembinaan kesiswaan / OSIS;
b.
Melaksanakan
bimbingan, pengarahan & pengendalian kegiatan siswa / OSIS dalam rangka
menegakkan disiplin & tatatertib sekolah serta pemilihan pengurus OSIS;
c.
Membina pengurus
OSIS dalam berorganisasi;
d.
Menyusun program
& jadwal pembinaan siswa secara berkala & incidental;
e.
Membina &
melaksanakan koordinasi 9K;
f.
Melaksanakan
pemilihan calon siswa teladan dan calon siswa penerima beasiswa;
g.
Mengadakan
pemilihan siswa untuk mewakili sekolah dalam kegiatan diluar sekolah;
h.
Mengatur mutasi
siswa;
i.
Menyusun program
ekstrakurikuler;
j.
Menyusun laporan
pelaksanaan kegiatan siswa secara berkala;
k.
Tugas-tugas lain
yang ditetapkan dengan surat keputusan pejabat atasan.
3.
Wakil Kepala
Sekolah Bidang Sarana
a. Menyusun Program Kerja sesuai Kebijakan Mutu dan Sasaran
Mutu;
b. Mengikuti Rapat Tinjauan Manajemen;
c. Melaksanakan tindak lanjut hasil Rapat Tinjauan Manajemen;
d. Melaksanakan Program Kerja;
e. Mengkoordinir penyediaan sarana dan prasarana;
f. Memonitor dan Mengevaluasi Pelaksanaan perawatan dan
perbaikan Sarana Prasarana serta pemeliharaan lingkungan;
g. Menindaklanjuti Hasil Monitoring dan Evaluasi perawatan
dan perbaikan;
h. Melaporkan dan mengkoordinasikan tugas pokok dan
fungsinya dalam Rapat Dinas Tim Manajemen;
i.
Mewakili
dan atau melaksanakan tugas Kepala Sekolah sesuai sarana dan prasarana;
j.
Menganalisis
pengadaan, pemanfaatan, perawatan fasilitas sekolah dan infrastruktur sekolah;
k. Menyusun program kerja tahunan perawatan dan perbaikan;
l.
Mengkoordinir
pelaksanaan perawatan dan perbaikan di setiap unit kerja;
m. Menyelenggarakan rapat koordinasi secara berkala dengan
tim perawatan dan perbaikan;
n. Melaporkan pelaksanaan kegiatan kerja kepada kepala
sekolah
4.
Staff
Tata Usaha 1
a.
Mengetik adm
sekolah;
b.
Mengetik Adm
Kurikulum (nilai dsb);
c.
Membuat DP3
tahunan;
d.
Mengagendakan
surat masuk dan surat keluar;
e.
Membuat lembar
disposisi pada surat masuk;
f.
Menyimpan atau
mengarsipkan surat masuk dan keluar pada file sesuai kelompok / klasifikasi
surat;
g.
Mengarsipkan dan
merawat keutuhan dokumen sekolah;
h.
Pelayanan
surat-menyurat;
i.
Menulis papan
Statistik;
j.
Pengetikan
surat-surat;
k.
Tugas lain yang
ditetapkan dengan surat keputusan/tugas;
5.
Staff Tata Usaha
2
a.
Mengumpulkan data siswa;
b.
Membuat daftar nama siswa;
c.
Membuat nomor induk siswa;
d.
Mencatat nilai rapor dan nilai ujian ke
buku induk siswa;
e.
Mencatat mutasi siswa masuk dan keluar;
f.
Mencatat perkembangan belajar siswa dan
lulusan yang diterima di PT, bekerja;
g.
Membuat ststistik keadaan siswa;
h.
Membuat laporan bulanan;
i.
Mengumpulkan data siswa peserta ujian
akhir;
j.
Merekap kehadiran siswa;
k.
Membuat usulan siswa masuk PTN melalaui
jalur minat dan bakat;
l.
Mencatat hasil belajar siswa ke buku
induk;
m. Tugas
lain yang ditetapkan dengan surat keputusan/tugas.
6. Staff
Tata Usaha 3
a.
Mengumpulkan data kepegawaian guru dan
karyawan;
b.
Melayani adm. Kesiswaan;
c.
Surat keterangan siswa;
d.
Surat izin siswa;
e.
Surat rekomendasi dan Memasukkan data
kepegawaian ke buku induk pegawai;
f.
Membuat analisa kebutuhan guru dan
karyawan;
g.
Membuat DUK tahunan;
h.
Membuat data statistik keberadaan guru
dan karyawan;
i.
Mengusulkan kenaikan pangkat dan
kenaikan gaji berkala, serta tanda penghargaan pengabdian;
j.
Membuat rekapitulasi kehadiran guru dan
karyawan;
k.
Pelayanan umum administrasi kepegawaian;
l.
Membuat laporan kepegawaian sesuai
permintaan dinas atau secara berkala;
m. Menyiapkan
upacara bendera;
n.
Tugas lain yang ditetapkan dengan surat
keputusan/tugas.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
Pada bab ini
penulis mencoba untuk menganalisa sistem pengelolaan administrasi kepegawaian
di SMA Negeri 3 Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir, data yang dikumpulkna oleh
peneliti dari lapangan melalui kegiatan wawancara dan pengamatan langsung pada
objek penelitian. Adapun yang menjadi objek penelitian ini adalah :
1. Kepala
Sekolah;
2. Wakil
Kepala Sekolah;
3. Kabag.
TU;
4. Kabag.
Humas;
5. Kasubbag.
Sarana;
6. Kasubbag.
Kesiswaan;
7. Kasubbag.
Kurikulum;
8. Guru
Senior; dan
9. Wali
Kelas.
dengan
pedoman wawancara, dengan pertanyaan :
1. Menurut
Bapak/Ibu/Saudara, bagaimana pelaksanaan sistem pengelolaan administrasi
kepegawaian di SMA Negeri 3 Tanjung Raja ini. Mohon penjelasan.!
2. Bagaiamana
menurut Bapak/Ibu/Saudara tentang Pemahaman pegawai dibagian ini terhadap
pengelolaan sistem administrasi kepegawaian. !
3. Menurut
Bapak/Ibu/Saudara, bagaimana Penataan terhadap berkas oleh pegawai administrasi
!
4. Bagaimana
menurut Bapak/Ibu/Saudara, apakah pelaksanaan pengawasan telah dilakukan oleh
pimpinan di segala tingkat !
Kegiatan
wawancara dan observasi dilaksanakan dari tanggal 5 Maret sampai dengan April
2013. Setelah data berhasil dikumpulkan dan kemudian dianalisis dan pada
akhirnya dapat diberikan kesimpulan.
Masing-masing
informan diberikan 4 (empat) macam pertanyaan, dengan hasil jawaban informan
sebagai berikut :
Pertanyaan ke-1, Menurut
Bapak/Ibu/Saudara, bagaimana pelaksanaan sistem pengelolaan administrasi
kepegawaian di SMA Negeri 3 Tanjung Raja ini. Mohon penjelasan.!
Jawaban
Informan pertama, Kepala SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
1.
Pengelolaan administrasi kepegawaian
sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, tetapi ada beberapa bagian
administrasi yang menyimpang dari prosedur seperti administrasi surat masuk dan
surat keluar, dimana pegawai bagian administrasi surat-menyurat tersebut kurang
memahami fungsi tugasnya ini terlihat dari sistem kerja yang dilakukan oleh
bagian sirkulasi surat menyurat tersebut seperti surat masuk sering menumpuk di
meja, kadang-kadang lupa dicatat dalam buku agenda surat masuk;
Jawaban
Informan kedua, Wakil Kepala SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
1. Benar
adanya, pengelolaan administrasi kepegawaian sudah sesuai dengan prosedur yang
ditetapkan, bahwa masih ada dari pegawai kami yang belum memahami sistem
pengarsipan surat masuk dan surat keluar. Hal ini dikarenakan ada beberapa
pegawai yang belum mengikuti bimbingan tentang masalah administrasi sehingga
mereka tidak memahami tentang pengarsipan surat masuk dan surat keluar yang
berdampak pada sistem administrasi baik kepegawaian maupun administrasi umum
akan terganggu;
Jawaban
Informan ketiga, Kabbag. SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
1. Sudah
sesuai dengan prosedur, tetapi kalau hambatan hampir setiap hari saya
mengalami, karena ada beberapa surat masuk yang salah diarsipkan, seharusnya
diarsipkan dibagian administrasi kepegawaian, sedangkan surat tersebut saya
masukan kedalam administrasi umum, ketika ditanyakan tentang surat tersebut
saya mengalami kebingungan mencarinya, maklum saya belum lama menangani masalah
administrasi surat masuk dan surat keluar;
Jawaban
Informan keempat, Kabbag. Humas SMA Negeri 3 Tanjung Raja:
1. Administrasi
kepegawaian sudah dikelolah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, tetapi ada
beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur seperti administrasi
surat masuk dan surat keluar, dimana pegawai bagian administrasi surat-menyurat
tersebut kurang memahami fungsi tugasnya ini terlihat dari sistem kerja yang
dilakukan oleh bagian sirkulasi surat menyurat tersebut seperti surat masuk
sering menumpuk di meja, kadang-kadang lupa dicatat dalam buku agenda surat
masuk;
Jawaban Informan
kelima, Kasubbag. Sarana SMA Negeri 3 Tanjung Raja:
1. Administrasi
kepegawaian telah dikelolah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, tetapi ada
beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur seperti administrasi
surat masuk dan surat keluar, dimana pegawai bagian administrasi surat-menyurat
tersebut kurang memahami fungsi tugasnya ini terlihat dari sistem kerja yang
dilakukan oleh bagian sirkulasi surat menyurat tersebut seperti surat masuk
sering menumpuk di meja, kadang-kadang lupa dicatat dalam buku agenda surat
masuk;
Jawaban Informan
Keenam, Kasubbag. Kesiswaan SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
1. Pengelolaan
administrasi kepegawaian sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, tetapi
ada beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur, diharapkan ada
perbaikan kedepannya pada pengelolaan administrasi kepegawaian ini.
Jawaban Informan
ketujuh, Kasubbag. Kurikulum SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
1. Pengelolaan
administrasi kepegawaian telah terlaksana sesuai dengan prosedur yang ada,
sehingga memudahkan proses administrasi, tetapi perlu diperbaiki lagi, agar
lebih rapi dan teratur;
Jawaban
Informan kedelapan, Guru Senior SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
1. Selaku
guru senior, kami merasa pengelolaan administrasi kepegawaian sudah sudah
sesuai dengan prosedur, diharapkan dapat ditingkatkan lagi kualitas dan
kuantitas kerjanya;
Jawaban
Informan kesembilan, Walikelas SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
1. Pengelolaan
administrasi kepegawaian sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, tetapi
ada beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur seperti
administrasi surat masuk dan surat keluar, dimana pegawai bagian administrasi
surat-menyurat tersebut kurang memahami fungsi tugasnya ini terlihat dari
sistem kerja yang dilakukan oleh bagian sirkulasi surat menyurat tersebut
seperti surat masuk sering menumpuk di meja, kadang-kadang lupa dicatat dalam
buku agenda surat masuk;
Pertanyaan ke-2, Bagaiaman menurut
Bapak/Ibu/Saudara tentang Pemahaman pegawai dibagian ini terhadap pengelolaan
sistem administrasi kepegawaian.
Jawaban
Informan pertama, Kepala SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
2. Pemahaman
pegawai terhadap pengelolaan sistem administrasi kepegawaian di SMA Negeri 3
Tanjung Raja dirasa sudah cukup baik, tetapi masih ada beberapa pegawai atau
staff yang belum dapat memaksimalkan kerjanya, hal ini bisa jadi dilatari oleh
tingkat pendidikan pegawai atau staff yang bekerja pada bagian ini, kedepannya pegawai-pegawai tersebut dapat diikutsertakan
pada pelatihan mengenai administrasi kepegawain, baik yang formal maupun non
formal, guna meningkatkan kinerja pegawai.
Jawaban
Informan kedua, Wakil Kepala SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
2. Pemahaman
pegawai pada bagian administrasi kepegawaian sudah sudah cukup baik, namun
masih ada dari pegawai kami yang belum memahami sistem pengarsipan surat masuk
dan surat keluar. Hal ini dikarenakan ada beberapa pegawai yang belum mengikuti
bimbingan tentang masalah administrasi sehingga mereka tidak memahami tentang
pengarsipan surat masuk dan surat keluar yang berdampak pada sistem
administrasi baik kepegawaian maupun administrasi umum akan terganggu;
Jawaban
Informan ketiga, Kabbag. SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
2. Pegawai
pada bagian ini dirasa sudah cukup pemahamannya, tetapi kalau hambatan hampir
setiap hari saya mengalami, karena ada beberapa surat masuk yang salah
diarsipkan, seharusnya diarsipkan dibagian administrasi kepegawaian, sedangkan
surat tersebut saya masukan kedalam administrasi umum, ketika ditanyakan
tentang surat tersebut saya mengalami kebingungan mencarinya, maklum saya belum
lama menangani masalah administrasi surat masuk dan surat keluar;
Jawaban
Informan keempat, Kabbag. Humas SMA Negeri 3 Tanjung Raja:
2. Pemahaman
pegawai terhadap pengelolaan administrasi kepegawaian dirasa sudah cukup baik,
tetapi ada beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur seperti
administrasi surat masuk dan surat keluar, dimana pegawai bagian administrasi
surat-menyurat tersebut kurang memahami fungsi tugasnya ini terlihat dari
sistem kerja yang dilakukan oleh bagian sirkulasi surat menyurat tersebut
seperti surat masuk sering menumpuk di meja, kadang-kadang lupa dicatat dalam
buku agenda surat masuk;
Jawaban Informan
kelima, Kasubbag. Sarana SMA Negeri 3 Tanjung Raja:
2. Tingkat
pemahaman pegawai terhadap pengelolaan Administrasi kepegawaian sudah cukup
baik, tetapi ada beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur
seperti administrasi surat masuk dan surat keluar, dimana pegawai bagian
administrasi surat-menyurat tersebut kurang memahami fungsi tugasnya ini
terlihat dari sistem kerja yang dilakukan oleh bagian sirkulasi surat menyurat
tersebut seperti surat masuk sering menumpuk di meja, kadang-kadang lupa
dicatat dalam buku agenda surat masuk;
Jawaban Informan
Keenam, Kasubbag. Kesiswaan SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
2. Pemahaman
pegawai terhadap Pengelolaan administrasi kepegawaian sudah cukup baik, tetapi
ada beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur, diharapkan ada
perbaikan kedepannya pada pengelolaan administrasi kepegawaian ini.
Jawaban Informan
ketujuh, Kasubbag. Kurikulum SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
2. Pengelolaan
administrasi kepegawaian telah terlaksana sesuai dengan prosedur yang ada,
sehingga memudahkan proses administrasi, tetapi perlu diperbaiki lagi, agar
lebih rapi dan teratur dan Pemahaman pegawai terhadap pengelolaan administrasi
sudah cukup baik;
Jawaban
Informan kedelapan, Guru Senior SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
2. Selaku
guru senior, kami merasa Pemahaman pegawai terhadap pengelolaan administrasi
kepegawaian sudah sudah sesuai dengan prosedur, diharapkan dapat ditingkatkan
lagi kualitas dan kuantitas kerjanya;
Jawaban
Informan kesembilan, Walikelas SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
2. Pengelolaan
administrasi kepegawaian sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, tetapi
ada beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur seperti
administrasi surat masuk dan surat keluar, dimana pegawai bagian administrasi
surat-menyurat tersebut kurang memahami fungsi tugasnya ini terlihat dari
sistem kerja yang dilakukan oleh bagian sirkulasi surat menyurat tersebut
seperti surat masuk sering menumpuk di meja, kadang-kadang lupa dicatat dalam
buku agenda surat masuk, namun Pemahaman pegawai terhadap administrasi
kepegawaian sudah cukup baik.
Pertanyaan ke-3, Menurut Bapak/Ibu/Saudara,
bagaimana Penataan terhadap berkas oleh pegawai administrasi.!
Jawaban
Informan pertama, Kepala SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
3. Penataan
terhadap berkas oleh pegawai administrasi pada SMA Negeri 3 Tanjung Raja dirasa
sudah cukup baik, namun masih perlu perbaikan dalam penataan berkas yang ada
pada sekolah kami, dalam hal perlu dibekali pendidikan dan pelatihan penataan
berkas pada pegawai baik secara formal maupun non formal;
Jawaban
Informan kedua, Wakil Kepala SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
3. Penataan
berkas oleh pegawai disini dirasa sudah cukup baik, namun masih perlu
pembenahan pada organisasi ini, bahwa masih ada dari pegawai kami yang belum
memahami sistem pengarsipan surat masuk dan surat keluar. Hal ini dikarenakan
ada beberapa pegawai yang belum mengikuti bimbingan tentang masalah
administrasi sehingga mereka tidak memahami tentang pengarsipan surat masuk dan
surat keluar yang berdampak pada sistem administrasi baik kepegawaian maupun
administrasi umum akan terganggu;
Jawaban
Informan ketiga, Kabbag. SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
3. Penataan
berkas oleh pegawai dirasa sudah cukup baik, tetapi kalau hambatan hampir
setiap hari saya mengalami, karena ada beberapa surat masuk yang salah
diarsipkan, seharusnya diarsipkan dibagian administrasi kepegawaian, sedangkan
surat tersebut saya masukan kedalam administrasi umum, ketika ditanyakan
tentang surat tersebut lsaya mengalami kebingungan mencarinya, maklum saya
belum lama menangani masalah administrasi surat masuk dan surat keluar;
Jawaban
Informan keempat, Kabbag. Humas SMA Negeri 3 Tanjung Raja:
3. Berkas
yang ditata sudah cukup baik, tetapi ada
beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur seperti administrasi
surat masuk dan surat keluar, dimana pegawai bagian administrasi surat-menyurat
tersebut kurang memahami fungsi tugasnya ini terlihat dari sistem kerja yang
dilakukan oleh bagian sirkulasi surat menyurat tersebut seperti surat masuk
sering menumpuk di meja, kadang-kadang lupa dicatat dalam buku agenda surat
masuk;
Jawaban Informan
kelima, Kasubbag. Sarana SMA Negeri 3 Tanjung Raja:
3. Perlunya
penataan berkas yang lebih baik, karena ada-ada saja masalah yang timbul,
misalnya ; beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur seperti
administrasi surat masuk dan surat keluar, dimana pegawai bagian administrasi
surat-menyurat tersebut kurang memahami fungsi tugasnya ini terlihat dari
sistem kerja yang dilakukan oleh bagian sirkulasi surat menyurat tersebut
seperti surat masuk sering menumpuk di meja, kadang-kadang lupa dicatat dalam buku
agenda surat masuk;
Jawaban Informan
Keenam, Kasubbag. Kesiswaan SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
3. Penataan
berkas oleh administrasi kepegawaian sudah sesuai dengan prosedur yang
ditetapkan, tetapi ada beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur,
diharapkan ada perbaikan kedepannya pada pengelolaan administrasi kepegawaian
ini.
Jawaban Informan
ketujuh, Kasubbag. Kurikulum SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
3. Penataan
berkas administrasi kepegawaian telah terlaksana sesuai dengan prosedur yang
ada, sehingga memudahkan proses administrasi, tetapi perlu diperbaiki lagi,
agar lebih rapi dan teratur;
Jawaban
Informan kedelapan, Guru Senior SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
3. Selaku
guru senior, kami merasa penataan berkas administrasi kepegawaian sudah sesuai
dengan prosedur, diharapkan dapat ditingkatkan lagi kualitas dan kuantitas
kerjanya;
Jawaban
Informan kesembilan, Walikelas SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
3. Penataan
berkas administrasi kepegawaian sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan,
tetapi ada beberapa bagian administrasi yang menyimpang dari prosedur seperti
administrasi surat masuk dan surat keluar, dimana pegawai bagian administrasi
surat-menyurat tersebut kurang memahami fungsi tugasnya ini terlihat dari
sistem kerja yang dilakukan oleh bagian sirkulasi surat menyurat tersebut
seperti surat masuk sering menumpuk di meja, kadang-kadang lupa dicatat dalam
buku agenda surat masuk;
Pertanyaan ke-4, Bagaimana menurut
Bapak/Ibu/Saudara, apakah pelaksanaan pengawasan telah dilakukan oleh pimpinan
di segala tingkat !
Jawaban
Informan pertama, Kepala SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
4. Pengawasan
sudah dilakukan terhadap bagian-bagian yang organisasi yang ada di Sekolah
kami, namun kami menyadari masih ada juga yang luput dari pengawasan kami;
Jawaban
Informan kedua, Wakil Kepala SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
4. Telah
dilakukan pengawasan disegala tingkat, namun masih ada dari pegawai kami yang
belum memahami sistem pengarsipan surat masuk dan surat keluar. Hal ini
dikarenakan ada beberapa pegawai yang belum mengikuti bimbingan tentang masalah
administrasi sehingga mereka tidak memahami tentang pengarsipan surat masuk dan
surat keluar yang berdampak pada sistem administrasi baik kepegawaian maupun
administrasi umum akan terganggu;
Jawaban
Informan ketiga, Kabbag. SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
4. Pengawasan
telah dilakukan disegala tingkatan, tetapi kalau hambatan hampir setiap hari
saya mengalami, karena ada beberapa surat masuk yang salah diarsipkan,
seharusnya diarsipkan dibagian administrasi kepegawaian, sedangkan surat
tersebut saya masukan kedalam administrasi umum, ketika ditanyakan tentang
surat tersebut saya mengalami kebingungan mencarinya, maklum saya belum lama
menangani masalah administrasi surat masuk dan surat keluar;
Jawaban
Informan keempat, Kabbag. Humas SMA Negeri 3 Tanjung Raja:
4. Pengawasan
sudah dirasa cukup baik disegala tingkatan, dan administrasi kepegawaian sudah
dikelolah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, tetapi ada beberapa bagian
administrasi yang menyimpang dari prosedur seperti administrasi surat masuk dan
surat keluar, dimana pegawai bagian administrasi surat-menyurat tersebut kurang
memahami fungsi tugasnya ini terlihat dari sistem kerja yang dilakukan oleh
bagian sirkulasi surat menyurat tersebut seperti surat masuk sering menumpuk di
meja, kadang-kadang lupa dicatat dalam buku agenda surat masuk;
Jawaban Informan
kelima, Kasubbag. Sarana SMA Negeri 3 Tanjung Raja:
4. Perlunya
peningkatan pengawasan disegala tingkatan, karena masih ada beberapa bagian
administrasi yang menyimpang dari prosedur seperti administrasi surat masuk dan
surat keluar, dimana pegawai bagian administrasi surat-menyurat tersebut kurang
memahami fungsi tugasnya ini terlihat dari sistem kerja yang dilakukan oleh
bagian sirkulasi surat menyurat tersebut seperti surat masuk sering menumpuk di
meja, kadang-kadang lupa dicatat dalam buku agenda surat masuk;
Jawaban Informan
Keenam, Kasubbag. Kesiswaan SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
4. Pengawasan
administrasi kepegawaian sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dan
disegala tingkatan, tetapi ada beberapa bagian administrasi yang menyimpang
dari prosedur, diharapkan ada perbaikan kedepannya pada pengelolaan
administrasi kepegawaian ini.
Jawaban Informan
ketujuh, Kasubbag. Kurikulum SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
4. Pengawasan
administrasi kepegawaian telah terlaksana sesuai dengan prosedur yang ada,
sehingga memudahkan proses administrasi, tetapi perlu diperbaiki lagi, agar
lebih rapi dan teratur;
Jawaban
Informan kedelapan, Guru Senior SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
4. Selaku
guru senior, kami merasa pengawasan administrasi kepegawaian sudah sudah sesuai
dengan prosedur, diharapkan dapat ditingkatkan lagi kualitas dan kuantitas
kerjanya;
Jawaban
Informan kesembilan, Walikelas SMA Negeri 3 Tanjung Raja :
4. Pengawasan
bukan hanya terhadap administrasi kepegawaian, namun semua tingkatan, maka dari
itu perlu ditingkatkan, karena ada beberapa bagian administrasi yang menyimpang
dari prosedur seperti administrasi surat masuk dan surat keluar, dimana pegawai
bagian administrasi surat-menyurat tersebut kurang memahami fungsi tugasnya ini
terlihat dari sistem kerja yang dilakukan oleh bagian sirkulasi surat menyurat
tersebut seperti surat masuk sering menumpuk di meja, kadang-kadang lupa
dicatat dalam buku agenda surat masuk.
5.2. Pembahasan
Dari hasil penelitian dan wawancara
dengan informan, menunjukkan bahwa analisis sistem pengelolaan administrasi
kepegawaian di SMA Negeri 3 Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir, yang berhasil
dikumpulkan peneliti di lapangan berdasarkan pengamatan langsung pada objek
penelitian terhadap informan, seperti ; Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Kabag.
TU, Kabag. Humas, Kasubbag. Sarana, Kasubbag. Kesiswaan, Kasubbag. Kurikulum,
Guru Senior dan Wali Kelas dengan indikator :
1.
Sistem Pelaksanaan Administrasi;
2.
Pemahaman;
3.
Penataan;
4.
Pengawasan.
1.
Sistem Pelaksanaan Administrasi
Kepegawaian
Berdasarkan
dari hasil penelitian tentang pelaksanaan sistem pengelolaan administrasi
kepegawaian, seluruh informan menjawab, hampir seluruhnya mengatakan terhadap
pengelolaan administrasi kepegawaian sudah sesuai dengan prosedur, tetapi masih
ada yang menyimpang, seperti ; belum memahami akan tugasnya, dimana
kadang-kadang surat-surat harus segera diselesaikan, tetapi menumpuk dimeja
pimpinan, dan juga pada penyusunan surat masuk dan keluar. Karena kurang paham
terhadap sirkulasi surat menyurat.
Sistem adalah suatu atau beberapa elemen yang saling
bekerja sama satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu, satu elemen
dan elemen yang lainnya saling berkaitan dan membutuhkan (simbiosis
mutualisme). Jika salah satu elemen rusak atau tidak berfungsi sebagaimana
mestinya, maka sistem tersebut pun akan terganggu fungsinya. Jadi dengan kata
lain, jika suatu elemen bermasalah maka elemen lain yang terhubung dengannya
juga akan bermasalah dan juga sistemnya.
Menurut Ludwig Von
Bartalanfy Sistem
merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan.
Menurut Anatol Raporot Sistem
adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain. Menurut L. Ackof
Sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik
yang
terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya.
terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya.
Syarat-syarat sistem :
1.
Sistem harus dibentuk untuk menyelesaikan masalah;
2.
Elemen sistem harus mempunyai rencana yang
ditetapkan;
3.
Adanya hubungan diantara elemen sistem;
4.
Unsur dasar dari proses (arus informasi, energi dan
material) lebih
penting dari pada elemen sistem;
penting dari pada elemen sistem;
5.
Tujuan organisasi lebih penting dari pada tujuan
elemen.
Secara garis besar, sistem dapat dibagi 2 :
a.
Sistem
Fisik (Physical System) :
Kumpulan elemen-elemen/ unsur-unsur yang saling
berinteraksi
satu sama lain secara fisik serta dapat diidentifikasikan secara nyata tujuan tujuannya. Contoh :
satu sama lain secara fisik serta dapat diidentifikasikan secara nyata tujuan tujuannya. Contoh :
- Sistem transportasi,
elemen : petugas,mesin, organisasi yang
menjalankan transportasi
menjalankan transportasi
- Sistem Komputer, elemen
: peralatan yang berfungsi bersamasama
untuk menjalankan pengolahan data.
untuk menjalankan pengolahan data.
b.
Sistem
Abstrak ( Abstract System) :
Sistem yang dibentuk akibat terselenggaranya ketergantungan ide, dan tidak dapat
diidentifikasikan secara nyata, tetapi dapat diuraikan
elemen-elemennya. Contoh : Sistem Teologi, hubungan antara manusia dengan Tuhan.
c. Karakteristik Sistem
-
Interaksi
Saling keterhubungan antara bagian yang
satu dengan lainnya.
-
Interdependensi
Bagian yang satu mempunyai ketergantungan dengan bagian yang lainnya.
Bagian yang satu mempunyai ketergantungan dengan bagian yang lainnya.
-
Integritas
Suatu keterpaduan antara subsistem-subsistem untuk mencapai tujuan.
Suatu keterpaduan antara subsistem-subsistem untuk mencapai tujuan.
-
Main
objection ( tujuan utama )
Pemusatan
tujuan yang sama dari masing-masing subsistem.
Klasifikasi Sistem
- Sistem diklasifikasikan sebagai sistem abstrak (abstract system) dan sistem fisik (physical system) Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak tampak secara fisik. Misalnya sistem teologia, yaitu sistem yang berupa pemikiran-pemikiran hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sistem fisik merupakan sistem yang ada secara fisik. Misalnya sistem komputer, sistem akuntansi, sistem produksi dan lain sebagainya.
- Sistem
diklasifikasikan sebagai sistem alamiah (natural system) dan sistem buatan
manusia (human made system) Sistem alamiah adalah sistem yang
terjadi melalui proses alam, tidak dibuat
manusia. Misalnya sistem perputaran bumi. Sistem buatan manusia adalah
sistem yang dirancang oleh manusia. Sistem buatan manusia yang melibatkan interaksi antara manusia dengan mesin disebut dengan human machine system atau ada yang menyebut dengan man-machine system. Sistem informasi merupakan contoh man-machine system, karena menyangkut penggunaan komputer yang berinteraksi dengan manusia. - Sistem
diklasifikasikan sebagai sistem tertentu (deterministic system) dan
system tak
tentu (probabilistic system)
Sistem tertentu beroperasi dengan tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi diantara bagian-bagiannya dapat dideteksi dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Sistem komputer adalah contoh dari sistem tertentu yang tingkah lakunya dapat dipastikan berdasarkan programprogram yang dijalankan. Sistem tak tentu adalah sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi karena mengandung unsur probabilitas. - Sistem
diklasifikasikan sebagai sistem tertutup (closed system) dan sistem
terbuka (open system)
Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak
berhubungan dan tidak terpengaruh dengan lingkungan
luarnya. Sistem ini bekerja secara otomatis tanpa adanya turut
campur tangan dari pihak diluarnya. Secara teoritis sistem tertutup
ini ada, tetapi kenyataannya tidak ada sistem yang benar- benar tertutup,
yang ada hanyalah relatively closed system (secara relatif tertutup, tidak
benar-benar tertutup). Sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dan
terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem ini menerima masukan
dan menghasilkan keluaran untuk lingkungan luar atau subsistem yang
lainnya.
- Pengertian
Pengembangan Sistem. Pengembangan sistem (systems development) dapat berarti
menyusun suatu
sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau
memperbaiki sistem yang telah ada. Sistem yang lama perlu diperbaiki atau diganti disebabkan karena beberapa hal, yaitu sebagai berikut ini :
a.
Adanya
permasalahan-permasalahan (problems) yang timbul di sistem yang lama yang dapat berupa
:
-
Ketidakberesan
-
Pertumbuhan
organisasi
b.
Untuk
meraih kesempatan-kesempatan (opportunities) Dalam keadaaan pasar
bersaing, kecepatan informasi atau efisiensi
waktu sangat menentukan berhasil atau tidaknya strategi dan rencana-rencana yang telah disusun untuk meraih kesempatan-kesempatan yang ada. Bila pesaing dapat memanfaatkan teknologi ini, maka kesempatan-kesempatan akan jatuh ke tangan pesaing. Kesempatan kesempatan ini dapat berupa peluang-peluang pasar, pelayanan yang meningkat kepada langganan dan lain sebagainya.
waktu sangat menentukan berhasil atau tidaknya strategi dan rencana-rencana yang telah disusun untuk meraih kesempatan-kesempatan yang ada. Bila pesaing dapat memanfaatkan teknologi ini, maka kesempatan-kesempatan akan jatuh ke tangan pesaing. Kesempatan kesempatan ini dapat berupa peluang-peluang pasar, pelayanan yang meningkat kepada langganan dan lain sebagainya.
c.
Adanya
instruksi-instruksi (directives). Penyusunan sistem yang baru dapat juga terjadi
karena adanya instruksi-instruksi dari atas pimpinan ataupun dari luar organisasi,
seperti misalnya peraturan pemerintah.
Menurut Felix A Nigra (1963:36) administrasi
kepegawaian adalah seni memilih pegawai-pegawai baru dan mempekerjakan
pegawai-pegawai lama sedemikian rupa, sehingga dari tenaga kerja itu diperoleh
mutu dan jumlah hasil serta pelayanan yang maksimum. Sedangkan sistem
administrasi kepegawaian adalah bagian dari administrasi negara yang
kebijaksanaannya ditentukan dari tujuan yang ingin dicapai.
Kebijaksanaan dasar sistem administrasi kepegawaian
di negara kita mengacu pada Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang perubahan
atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian. Dalam
undang-undang tersebut dinyatakan bahwa dalam rangka usaha mencapai tujuan
nasional untuk mewujudkan masyarakat madani yang taat hukum, berperadaban
modern, demokratis, adil dan bermoral tinggi, diperlakukan pegawai negeri yang
merupakan unsur aparatur negara yang bertugas sebagai abdi masyarakat yang
menyelenggarakan pelayanan secara adil dan merata, menjaga persatuan dan
kesatuan bangsa dengan penuh kesetiaan kepada pancasila dan Undang-undang dasar
1945.
Pengelolaan diartikan sebagai suatu
rangkaian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk
melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujan tertentu. Definisi pengelolaan
oleh para ahli terdapat perbedaan-perbedaa hal ini disebabkan karena para ahli
meninjau pengertian dari sudut yang berbeda-beda. Ada yang meninjau pengelolaan
dari segi fungsi, benda, kelembagaan dan yang meninjau pengelolaan sebagai
suatu kesatuan. Namun jika dipelajari pada prinsipnya definisi- definisi tersebut
mengandung pengertian dan tujuan yang sama.
Berikut ini adalah pendapat dari
beberapa ahli yakni menurut Wardoyo (1980:41) memberikan definisi sebagai
berikut pengelolaan adalah suatu rangkai kegiatan yang berintikan perencanaan
,pengorganisasian pengerakan dan pengawasan dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Menurut Harsoyo (1977:121)
pengelolaan adalah suatu istilah yang berasal dari kata “kelola” mengandung
arti serangkaian usaha yang bertujuan untuk mengali dan memanfaatkan segala
potensi yang dimiliki secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan tertentu
yang telah direncanakan sebelumnya.
Dari uraian diatas dapatlah
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pengelolaan adalah suatu rangkaian
kegiatan yang berintikan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan
pengawasan yang bertujuan menggali dan memanfaatkan sumber daya manusia yang
dimiliki secara efektif untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan.
- Pemahaman
Menurut jawaban dari berbagai
informan, dirasa sudah cukup baik, namun begitu masih ada yang belum dapat
secara maksimal melaksanakan kerjanya, karena kekurangan pendidikan, serta kurangnya
pelatihan, baik formal maupun non formal, disamping itu ada juga yang belum
mengikuti pendidikan. Sehingga dalam melaksanakan tugas menjadi terganggu.
Disamping itu adanya kekurangan pengetahuan, mestinya setiap surat yang masuk
atau keluar, supaya diarsipkan, sehingga banyak pekerja yang lalai melakukan
itu, atau sering adanya sirkulasi surat, sehingga sering surat masuk tidak
dicatat dalam agenda dan menumpuk dimeja dan hampir seluruh pegawai
administrasi kepegawaian kurang memahami akan tugasnya. Padahal disetiap
pekerjaan apapun yang dilakukan, bahwa pemahaman itu sangat penting, karena
dengan pemahaman, kita dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, sehingga dalam
bekerja selalu berhati-hati dalam berbuat. Sehingga dapat dikatakan sebagai
berikut :
Pemahaman
adalah proses, perbuatan, cara memahami atau memahamkan” (KBBI, 1993 : 636).
Dalam hal ini pemahaman dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang
diikuti hasil belajar sesuai dengan tujuan tujuan pembelajaran. Suharsimi (2009
: 118) menyatakan bahwa pemahaman (comprehension) adalah bagaimana
seorang mempertahankan, membedakan, menduga (estimates), menerangkan,
memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan
kembali, dan memperkirakan.
Kita semakin mampu menerima keadaan
individu, seperti apa adanya dan sekaligus keberadaan individu, baik dari segi
kelebihan maupun kekurangannya. Kita semakin mampu memperlakukan individu
sebagaimana mestinya dalam arti lain mampu memberikan bantuan seperti yang
dikehendakinya. Kita terhindar dari gangguan
komunikasi, sehingga mampu menciptakan relasi yang semakin baik.
Ada beberapa
manfaat pengetahuan dan keterampilan melakukan asesmen, yaitu (a) untuk
pengklasifikasian dan penempatan seseorang dalam pendidikan dan pekerjaan, (b) untuk
menyaring pelamar pekerjaan, pendidikan, dan atau program pelatihan, (c) untuk
pemberian bantuan dan pengarahan bagi individu dalam pemilihan penddiikan,
pekerjaan, konseling perorangan, (d) untuk memilih karyawan mana yang perlu
dihentikan, dipertahankan, atau dipromosikan melalui program pendidikan atau
pelatihan atau tugas khusus, (e) untuk meramalkan dan menentukan perlakuan
(tritmen) psikis, fisik, klinis, dan rumah sakit , (f) untuk mengevaluasi
perubahan kognitif, intrapersonal, dan interpersonal sebagai hasil dari
pendidikan, terapi psikologis dan berbagai program intervensi tingkah laku. (g)
untuk mendukung penelitian tentang perubahan tingkah laku dan meng-evaluasi
efektifitas suatu program atau teknik yang baru.
Bagi
konselor, kemampuan asesmen merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki
konselor, ia adalah bagian penting dari kegiatan konseling. Dan jika ada
konselor yang tidak memiliki kemampuan dalam bidang asesmen diibaratkan seperti
pelayar yang tidak membawa kompas. Ia tentu akan tersesat, atau
sekurang-kurangnya membuang-buang energi untuk sampai ke tujuan. Dalam
kaitannyadengan tugas konselor, bisa jadi bukan hanya membuang-buang tenaga,
tetapi lebih dari itu bisa jadi justru berdampak negatif bagi individu yang
dibimbing lantaran malpraktek.
- Penataan
Jawaban dari hampir seluruh
informan, terhadap penataan administrasi kepegawaian, dirasa cukup baik, namun
masih diperlukan penataan yang lebih baik lagi, karena kekurangan pendidikan
dan latihan, baik formal maupun informal, untuk itu masih perlu dibenahi.
Sehingga belum maksimal cara penataan berkas, karena menurut informan tersebut,
hampir setiap hari terjadi hambatan, seperti ; surat masuk salah diarsipkan,
yang semestinya surat tersebut didalam administrasi kepegawaian dan termasuk
kedalam administrasi umum, sehingga untuk mencari surat tersebut sulit dan
tidak dapat diketemukan dalam waktu yang cepat. Banyaknya surat yang salah
penyampaian, karena pekerja tersebut kurang mengetahui, begitu juga sering
menumpuk dimeja. Padahal sistem penataan sangat diperlukan, sehingga sistem
penataan adalah sebagai pedoman mempermudah dan mempercepat, baik bagian
penerimaan atau bagian pengeluaran.
Sistem
penataan arsip yang baik dan teratur, mencerminkan keberhasilan suatu
pengelolaan kegiatan di masa lalu, yang akan besar pengaruhnya terhadap
perkembangan di masa yang akan datang.
Sistem
penataan arsip adalah kegiatan mengatur dan menyusun arsip dalam suatu tatanan
yang sistematis dan logis, menyimpan serta merawat arsip untuk digunakan secara
aman dan ekonomis (Sedarmayanti, 2003 : 68).
Menurut
Sedarmayanti tujuan penataan arsip adalah :
-
Agar arsip dapat disimpan dan ditemukan
kembali dengan cepat dan tepat.
-
Menunjang terlaksananya penyusutan arsip
dengan berdaya guna.
Penataan
arsip yang diartikan dalam uraian ini adalah suatu kegiatan pemberkasan dan
panataan arsip dinamis, yang penempatannya secara aktual menerapkan suatu
sistem tertentu, yang biasa disebut sistem penempatan arsip secara aktual.
Kegiatan pemberkasan dan penataan arsip
dinamis tersebut populer dengan sebutan “filingSystem” (Jonner
Hasugian, 2003:7-online).
Para
ahli kearsipan kelihatannya sepakat untuk menyatakan bahwa filling system yang
digunakan atau dipakai untuk kegiatan penyimpanan arsip terdiri dari
(Sedarmayanti, 2003 : 70) :
1.
Sistem Abjad
Sistem
abjad adalah sistem penataan berkas yang umumnya digunakan untuk menata berkas
yang berurutan dari A sampai dengan Z dengan berpedoman pada peraturan
mengindeks.
2. Sistem
Masalah
Sistem
masalah adalah sistem penataan berkas berdasarkan kegiatan-kegiatan yang
berkenaan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan administrasi yang
mengikuti sistem ini.
Masalah-masalah
harus dikelempokkan menjadi satu subjek yang disusun dalam suatu daftar yang
disebut “daftar indeks”. Daftar indeks yaitu daftar yang kode dan
masalah-masalah yang terdapat di dalam kantor/organisasi sebagai pedoman
penataan arsip berdasarkan masalah.
3. Sistem
Nomor
Sistem
nomor adalah sistem penataan berkas berdasarkan kelompok permasalahan yang kemudian
mesing-masing setiap masalah diberi nomor tertentu.
4. Sistem
Tanggal
Sistem
tanggal adalah sistem penataan berkas berdasarkan urutan tanggal, bulan dan
tahun yang mana pada umumnya tanggal yang dijadikan pedoman surat. Surat atau
berkas yang datang paling akhir ditempatkan dibagian paling akhir pula, tanpa
harus memperhatikan masalah berkas tersebut.
5. Sistem
Wilayah
Sistem
wilayah adalah sistem penataan berkas berdasarkan tempat atau lokasi. Untuk
melaksanakan sistem wilayah ini, dapat dipergunakan nama daerah atau wilayah
sebagai pokok permasalahan. Pokok permasalahan tersebut dapat dikembangkan
menjadi masalah-masalah.
- Pengawasan
Dari beberapa jawaban informan,
dapat dikumpulkan sebagai kesimpulan sementara, mengatakan bahwa pengawasan telah
dilakukan terhadap bawahan, tapi masih ada saja yang kurang mengerti akan
artinya pengawasan dan setiap pekerjaan belum benar dikarenakan belum pernah
mengikuti bimbingan dan pendidikan tentang pengawasan. Sehingga timbul beberapa
hambatan atau kesalahan, seperti ; pemberkasan dan pengarsipan , sehingga
setiap diperlukan lambat menemukannya, begitu juga masih ada saja pegawai yang
tindak-tanduknya yang tidak memahami akan kerjanya, sehingga yang bekerja semaunya
saja dan mereka menyadari, bahwa mereka serba kekurangan akan pengetahuan. Dan
untuk itu, yang bersangkutan berkeinginan untuk mengisi diri dengan ilmu
pengetahuan dna berharap kalau bisa pelaksanaan pengawasan dengan bukti nyata,
misalnya pengawas datang secara langsung ketempat kami bertugas, hingga jangan
terjadi suatu masalah yang tidak dapat dielakkan.
Pada dasarnya setiap pengawasan
administrasi kepegawaian, telah terlaksana dengan baik, tapi masih ada saja
pemberkasan dan penyimpanan, terjadi penyimpangan disana-sini, dan hal ini
dikarenakan kurang pemahaman pegawai terhadap tugasnya, karena sering tidak
adanya pengawasan, walaupun telah berjalan dengan prosedur yang ada masih ada
saja terlupakan.
Pengawasan mengatakan pekerjaan
harus selesai pada hari itu juga, tapi masih ada saja yang menumpuk dikarenakan
kurangnya kesadaran terhadap pengawasan, begitu juga terhadap kualitas
pekerjaan yang perlu ditingkatkan, baik kualitas, maupun kuantitas pekerjaan.
Pengawasan merupakan hal sangat
penting, karena pengawasan merupakan sebagai bahan penilaian terhadap
pekerjaan, apakah telah sesuai dengan perencanaan dan bukan mencari-cari
kesalahan dan bila terjadi kesalahan segera diperbaiki.
Pengawasan
merupakan fungsi manajerial yang keempat setelah perencanaan, pengorganisasian,
dan pengarahan. Sebagai salah satu fungsi manajemen, mekanisme pengawasan di
dalam suatu organisasi memang mutlak diperlukan. Pelaksanaan suatu rencana atau
program tanpa diiringi dengan suatu sistem pengawasan yang baik dan
berkesinambungan, jelas akan mengakibatkan lambatnya atau bahkan tidak
tercapainya sasaran dan tujuan yang telah ditentukan.
Istilah
pengawasan dalam bahasa Inggris disebut controlling, yang oleh Dale (dalam
Winardi, 2000:224) dikatakan bahwa: “… the modern concept of control … provides
a historical record of what has happened … and provides date the enable the …
executive … to take corrective steps …”. Hal ini berarti bahwa pengawasan tidak
hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi,
tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan meluruskannya sehingga mencapai
tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan. More (dalam Winardi, 2000:226)
menyatakan bahwa: “… there’s many a slip between giving works, assignments to
men and carrying them out. Get reports of what is being done, compare it with
what ought to be done, and do something about it if the two aren’t the same.
Sedangkan
menurut Admosudirdjo (dalam Febriani, 2005:11) yang mengatakan bahwa pada
pokoknya controlling atau pengawasan adalah keseluruhan daripada kegiatan yang
membandingkan atau mengukur apa yang sedang atau sudah dilaksanakan dengan
kriteria, norma-norma, standar atau rencana-rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Sementara
berkaitan dengan tujuan pengawasan, Maman Ukas (2004:337) mengemukakan:
Mensuplai
pegawai-pegawai manajemen dengan informasi-informasi yang tepat, teliti dan
lengkap tentang apa yang akan dilaksanakan.
Memberi kesempatan pada pegawai dalam meramalkan rintangan-rintangan yang akan mengganggu produktivitas kerja secara teliti dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menghapuskan atau mengurangi gangguan-gangguan yang terjadi.
Memberi kesempatan pada pegawai dalam meramalkan rintangan-rintangan yang akan mengganggu produktivitas kerja secara teliti dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menghapuskan atau mengurangi gangguan-gangguan yang terjadi.
Setelah
kedua hal di atas telah dilaksanakan, kemudian para pegawai dapat membawa
kepada langkah terakhir dalam mencapai produktivitas kerja yang maksimum dan
pencapaian yang memuaskan dari pada hasil-hasil yang diharapkan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil
penelitian dan pembahasan terhadap sistem pengelolaan administrasi kepegawain
di SMA Negeri 3 Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir terhadap sistem pengelolaan
administrasi kepegawaian dan pemahaman, penataan berkas dan pengawasaan, dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Pengelolaan
administrasi kepegawaian telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, tetapi
masih ada prosedur yang menyimpang, seperti ; pemberkasan surat masuk dan surat
keluar;
2. Pemahaman
pegawai terhadap administrasi kepegawaian sudah cukup baik, tetapi masih ada
pegawai yang belum memaksimalkan kerjanya, seperti ; menumpuk pekerjaan;
3. Penataan
administrasi kepegawaian sudah cukup baik, tapi masih memerlukan penataan yang
lebih baik;
4. Pengawasan
sudah dilakukan terhadap bagian-bagian yang berada dibawah wewenang pengawasan,
tetapi masih ada yang luput dari pengawasan dan masih ada pegawai yang belum
memahami akan tugasnya.
6.2. Saran
1. Agar
para pegawai dapat mengerti tentang administrasi kepegawaian, perlu diberikan
pelatihan dan kursus-kursus tentang pendidikan dibidang administrasi
kepegawaian;
2. Agar
pemahaman terhadap tugas peuntkerjaan administrasi kepegawaian dengan memberikan
pengetahuan dan pendidikan, serta latihan untuk diikutsertakan, baik formal
maupun informal;
3. Agar
penataan berkas dan arsip baik, perlu dibekali pendidikan dan pelatihan terhadap
penataan berkas atau arsip, baik dilingkungan sendiri maupun dilingkungan luar;
4. Agar
pengawasan lebih efektif dan efisien, kiranya secara rutin dilakukan oleh
atasan, baik dalam bentuk yang nyata ataupun teori, misalnya ; bawahan
diikutsertakan didalam kursus-kursus dan pelatihan pengawasan, baik internal
maupun eksternal, terutama bidang kearsipan dan dokumentasi.
Pedoman Wawancara
1.
Menurut Bapak/Ibu/Saudara, bagaimana
pelaksanaan sistem pengelolaan administrasi kepegawaian di SMA Negeri 3 Tanjung
Raja ini. Mohon penjelasan.!
2.
Bagaiamana menurut Bapak/Ibu/Saudara tentang
Pemahaman pegawai dibagian ini terhadap pengelolaan sistem administrasi
kepegawaian. !
3.
Menurut Bapak/Ibu/Saudara, bagaimana
Penataan terhadap berkas oleh pegawai administrasi !
4.
Bagaimana menurut Bapak/Ibu/Saudara,
apakah pelaksanaan pengawasan telah dilakukan oleh pimpinan di segala tingkat !
No comments:
Post a Comment